Pages

23 August 2016

Pembosan yang Membaca dan Menulis



Daftar bacaan saya sebulan ini: Dear Life – Alice Munro (bacaan di tempat tidur), Seeing Beauty Sensing Race in Transnational Indonesia – L. Ayu Saraswati (E-book di laptop/ponsel), The Seven Good Years – Etgar Keret (bacaan di meja kerja), Kearifan Mistisisme – Anand Krishna (buku yang ada di tas main).
Alih-alih bisa dikatakan sebagai pembaca yang tekun, daftar tersebut jelas menerangkan bahwa saya adalah pembosan yang membaca. Terlepas dari hal itu, saya sebenarnya adalah pembaca yang tabah. Bagaimana tidak tabah, sejumlah rutinitas memberi saya banyak waktu untuk ‘menunggu’, mulai dari ngantri nge-lab, nungguin atasan hadir saat meeting, ngantri tiket KRL, sampai dengan ngeden di WC. Waktu-waktu kosong yang menguji ketabahan seseorang. Kita bisa menghabiskannya dengan apa saja, termasuk membaca, mainan hape, nyari pokemon, melamun, atau mati bosan berdiri.
Buku pertama, Dear Life, saya comot dari rak buku timbunan. Salah satu buku yang direkomendasikan Leila S. Chudori sewaktu di Tempo Institute kemarin. Ia mengatakan penggambaran konflik dan karakter di tulisan Alice Munro sangat lembut, meski tetap gelap. Karena cerpennya rada panjang (1 cerpen bisa 50 halaman lebih), saya memilih membacanya di kamar, selain lebih fokus, saya bisa mengalokasikan waktu selama yang saya mau. Buku kedua, Seeing Beauty Sensing Race in Transnational Indonesia, buku diskusi saya bersama teman-teman Serambi Sitara di UI Salemba kemarin. Buku tersebut mendedah nilai-nilai yang menekan feminism dalam konteks pengkontruksian kecantikan versi Indonesia, salah satunya perihal ‘cantik adalah yang berkulit putih’. Buku ketiga, The Seven Good Years, sebuah memoar penulis Israel (Etgar Keret) tentang keberpihakannya pada perang, perdamaian, dan masyarakat muslim di dunia. Buku keempat, Kearifan Mistisisme, saya menemukan buku ini di Gramedia bulan lalu, ketika saya sedang senang-senangnya mencari tahu tentang DMT, ayahuasca, dan Outer Travels, Inner Journeys. Karena Agustus ini saya sering bolak balik Bogor-Jakarta dan Bogor-Jogja, jadilah buku Anand Krishna ini yang saya bawa ke mana saja—tentu saja jika saya sedang tidak pintar tidur di kereta ya (gimana gak pinter, saya sekarang mampu tidur di kereta tanpa harus senderan. Semangat nyicil tidur di mana aja lah ya).
Lalu, dari semuanya, mana yang selesai lebih dulu? Bukan keempatnya. Saya semalam menyelesaikan Nadira. Buku Leila S. Chudori setebal 300 halaman ini selesai dalam waktu dua hari. Saya mengabaikan buku-buku lain, menjauhkan diri dari laptop dan draft-draft tulisan, menanggalkan kebosanan saya, dan membacanya dengan keras kepala.
Mulanya adalah sahib saya (ceilee sa-hib-sa-ya) mengomentari buku Leila yang lain: Malam Terakhir. Katanya, Leila sering membuat karakter-karakter di ceritanya berkepribadian ganda—semacam kontradiktif(?), dan katanya juga, karakter saya mirip satu tokoh di cerpen kedua dalam Malam Terakhir. “Tapi, berujung minum baygon,” tambahnya. Alih-alih sudah membacanya, saya baru sempat menyobek plastik buku kumpulan cerpen Leila S. Chudori, sebelum akhirnya saya titipkan untuk ia baca lebih dulu. Mungkin saya akan membacanya setelah kami sudah serumah besok.
“Oh ya, aku memang terobsesi dengan cerita-cerita bunuh diri,” Satu pernyataan saya yang nyatanya menuntun saya membaca satu buku yang pernah saya dapat: Nadira.
Chapter pertama Nadira sudah cukup memberi saya banyak alasan untuk segera menuntaskan buku ini. Konflik diinisiasi dengan sebuah tragedi keluarga: Ibu Nadira mati bunuh diri. Tentu saja mengejutkan, karena yang meninggal adalah seorang Ibu yang dikenal ekspresif, open minded, berpikiran bebas dan selalu berproses mencari jati diri. Hal ini yang kemudian dikembangkan oleh Leila S. Chudori melalui tokoh-tokoh dalam buku. Mulai dari tiga anak yang mempunyai karakter dan konfliknya masing-masing, ayah sekaligus mantan wartawan yang ditinggal mati bunuh diri istrinya, serta beberapa laki-laki yang melalui mereka pembaca menyelami karakter Nadira yang dingin: seorang anak perempuan, wartawan, kekasih, istri, dan proses-proses Nadira yang lain yang berjalan semakin gelap.

Saya selalu menyukai tema keluarga dan kematian. Dua hal yang selalu tak akan pernah habis didedah secara sosial dan psikologis. Dua hal yang juga saya angkat dalam draft cerpen terakhir saya, yang Leila S. Chudori baca juga kemarin.
“Ini plot yang sangat sangat bagus, sederhana, tetapi menjanjikan kedalaman hubungan manusia, kematian, dan identitas. Karena ini tentang relasi nenek dan anak kecil—cucu perempuan yang baru ia lihat setelah besar, maka dialognya harus kuat,” Kata Leila.

11 July 2016

Kontemplasi





“Mencintai sejatinya adalah sekumpulan proses mengasuh ketakutan,”

Saya dikelilingi orang-orang baik yang menghargai hal-hal yang mereka miliki. Orang tua yang sepenuh hati membesarkan anak-anak mereka, orang-orang tua militan yang membelajarkan anak-anak muda, dan teman-teman yang tidak melulu mau didengarkan, tetapi juga mendengarkan. Atmosfer yang saya kira akan sangat mendukung siapa pun yang bertumbuh di sekitarnya.

Yang saya pelajari selama bertumbuh sebagai seorang anak, teman, dan sahabat dengan dirinya sendiri adalah selamanya kita tidak bisa menghindar dari kekhawatiran dan ketakutan. Kolega saya pernah bercerita tentang anak laki-lakinya. Perihal kekhawatiran yang selalu muncul ketika mengikuti pertumbuhan seorang anak. Saat kecil, kekhawatiran itu muncul, misalnya, dalam bentuk pemenuhan kebutuhan nutrisi dan ASI, apakah sudah cukup atau masih kurang untuk pertumbuhan si anak. Lebih besar lagi, kekhawatiran orangtua berada dalam lingkup perkembangan karakter si anak, bagaimana ia kelak mampu beradaptasi dengan lingkungan, dan sebagainya. Lebih besar lagi, kekhawatiran orangtua mungkin akan beralih pada pemilihan sistem pendidikan yang cocok untuk si anak, pergaulan bersama teman yang tentunya diharapkan tidak menyimpang. Semakin besar lagi, orangtua beralih khawatir dengan pencapaian-pencapaian si anak, apa yang idealnya sudah diperoleh tapi belum, apa yang idealnya sudah dilewati tapi belum, dan begitu seterusnya. Konon, kita tidak akan bisa berhenti khawatir ketika sudah memutuskan untuk mengikuti pertumbuhan orang-orang yang kita cintai—termasuk mengikuti pertumbuhan diri sendiri.

Di titik itu, prasangka baik dan rasa optimis hadir sebatas untuk menggenapi perasaan, bukan mengalahkan ketakutan. Saya pikir, sama halnya dengan ketakutan orangtua atas anaknya, semua proses mencintai akan melalui proses tersebut. Bagaimana seorang teman khawatir atas kesembuhan temannya, pasangan yang mengkhawatirkan keberjarakan emosional, atau malah seorang kakak yang khawatir adiknya disakiti atau berpotensi menyakiti oranglain.

Karenanya, mencintai sejatinya adalah sekumpulan proses mengasuh ketakutan.

Pun seperti yang lain, saya tengah mengalaminya juga. Perjalanan panjang, Gunungkidul-Cibinong, nyatanya membuat saya senewen. Bukan melulu karena padatnya arus balik—yang sudah saya duga sebelumnya—tetapi juga perihal keberjarakan yang bakal saya tempuh, pun dengan amanah baru yang dititipkan oleh orangtua dan orang-orang yang menyayangi saya. Ya, saya takut.

Saya takut atas seremoni-seremoni yang telah dan akan dilewati bersama-sama. Tentang bagaimana agenda itu berjalan dan dijalani, atau bagaimana proses tersebut berlanjut, menumbuh, dan membaikkan. Saya takut tidak mendapat ruang untuk saling berbagi hal-hal remeh, semacam mandi sore yang terlewat, sariawan yang tengah diderita, atau buku menarik yang sebaiknya dibaca berdua. Saya, anak kecil yang gila perhatian dan pelukan ini, tentu takut kehilangan sapaan, pesan, dan keriuhan yang saya harap datang sering-sering untuk sekedar membunuh keberjarakan. Keberjarakan adalah hantu, yang nyata pun menakutkan. Bagaimana tidak menakutkan, darinya akan terlahir perasaan-perasaan yang tidak bisa dihentikan, tak bisa diselamatkan dengan kata-kata, dan terkadang tak bisa dilerai dengan nalar, hanya mampu ditunda. Proses penundaan itu yang buat beberapa orang didefinisikan sebagai rindu, beberapa di antaranya dibiarkan menguap di udara, hilang bersama asap rokok dan uap air dari pagi yang lembab. Kemungkinan kedua adalah yang paling menakutkan dari segalanya.

Oh ya, ini memang sepele, cuma perkara intensitas dalam berkomunikasi, tapi bagaimana kita bisa merawat hal-hal yang lebih besar jika merawat hal sepele seperti itu juga sudah kewalahan.

Yah, pendeknya, saya takut memiliki kehilangan.

Ketika kita bosan dengan keriuhan, membiarkan orang lain tetap berjarak dengan kita tentu lebih mudah. Kemudian saya bertanya, apa sekarang waktu yang tepat untuk menikmati rasa bosan, di sisi yang lain, bukan hanya keriuhan yang mengejar, tetapi juga tanggungjawab sebagai manusia.

Memang, tak lebih dari ketakutan-ketakutan personal, yang bisa jadi, bagi beberapa orang dianggap hal remeh, pun berlebihan. Ketika orang lain bangga-bangganya memikirkan bagaimana membuat planet panjang usia, bagaimana meredakan perang saudara, bagaimana memelihara kuasa melalui nuklir-nuklir yang sengaja diciptakan, saya malah disibukkan memandangi deretan kendaraan yang panjang mengular, saling menjebak satu sama lain, menciptakan pemandangan yang rutin datang di setiap musim lebaran, dan sesekali—atau berulang kali—mengukur jarak, jam, usia, perasaan, tanggungjawab, ego, dan hal-hal lain, yang memang perlu dihikmati dan dinikmati pelan-pelan, di sepanjang perjalanan balik.

Tapi setidaknya saya sadar, ketika saya sudah bisa mengungkapkan suatu hal—sesepele apapun itu—berati saya sudah paham hal itu. Lebih dari itu, bukankah mencintai sejatinya adalah sekumpulan proses mengasuh ketakutan. Anggap saja saya menyadarkan diri saya sebenar-benarnya, bahwa saya tengah memiliki perasaan dan proses yang benar, bukan perasaan-perasaan yang tidak sengaja dikarbit oleh tekanan, intervensi dan semacamnya.

Kurang beruntung apa coba, saya dikelilingi orang-orang baik yang mengajarkan bahwa mencintai seseorang adalah berkah.

Mungkin, tidak semua hal yang selama ini kita dambakan dapat kita raih sebagaimana yang kita pikir dan rencanakan. Tidak semua hal yang selama ini kita damba adalah satu-satunya kebaikan yang tak tertawar. Itu sebatas keinginan manusia, yang katanya, keinginan jarang sekali mampu berseimbang dengan realita. Namun, jika ternyata ada satu, dan hadir, dan berjodoh dengan keinginan, dan mengamini doa-doa kita selama ini, apa iya, kita akan terus-terusan menghindar dari keputusan untuk memilihnya dan menjadi lebih bahagia karenanya. Kabar baiknya lagi adalah saya tengah mendapat kabar baik. Tuhan kurang baik apa coba? 


25 June 2016

Omar: Orang-orang yang Jatuh (Hati) pada Ambisi



Kisah cinta segitiga itu klise. Beberapa dari kita pasti sepakat dengan pernyataan itu. Bagi setiap pencerita, termasuk pembuat film, hal tersebut adalah tantangan yang harus mereka eksekusi. Terkadang, mengolah sebuah stereotip yang berasal dari orang-orang yang gemar memberi label apapun itu tidak mudah. Kabar baiknya, Hany Abu-Assad bisa, melalui film Omar.
Menariknya, ada dua macam segitiga, kisah cinta Omar dengan Nadia dan Amjad, serta kisah cinta Omar dengan Palestina dan tuntutan tentara Israel. Dua hal tersebut dileburkan dan diikat dengan ambisi. Adalah ambisi Omar menikahi Nadia dan melawan tentara Israel, yang sialnya Amjad, teman sejak kecil sekaligus seperjuangannya, mempunyai ambisi yang sama.
Yang saya pelajari selama menjadi manusia yang mampu jatuh hati adalah kita mungkin selamanya tidak bisa berusaha menjauhkan diri sendiri dari kesakitan, namun kita bisa mengusahakan hal yang lebih besar, yaitu untuk tidak menyakiti orang lain. Barangkali, Omar juga sepakat, ia merelakan satu orang yang selama ini menjadi pondasi dasar ambisi dan hidupnya, Nadia. Bukan karena hal-hal semenyedihkan ‘karena sahabat aku menyerah’, melainkan karena alasan yang dianggapnya sakral—namun nyatanya adalah produk dari pengkhianatan-pengkhianatan lainnya.
Pengkhianatan dalam film dibahas dengan panjang. Bagaimana sebuah relasi pertemanan sejak kecil pun bukan alasan masuk akal untuk saling percaya dan selalu berkeyakinan mereka selalu punya visi dan misi yang sama. Semua dari kita bisa menjadi pengkhianat, bahkan aku sekalipun, kata kakak Nadia sebagai pimpinan gang penempakan itu. Kondisi politik juga menuntut mereka untuk tidak saling percaya satu sama lain. Hingga kemudian beralih pada hubungan personal, bagaimana orang-orang menyakiti relasinya masing-masing dengan ketidakpercayaan, dan menghancurkannya kemudian.
Banyak hal menyedihkan di setiap relasi personal, terlebih lagi relasi personal yang dibarengi dengan jihad sosial lainnya: kepentingan politik. Konflik di Palestina sendiri sudah melukai banyak hal dan banyak pihak. Dalam Omar, penonton diajak untuk menyelami konflik lain yang lebih personal melalui relasi Omar dan Nadia, dengan tidak menepikan konflik Palestina-Israel itu sendiri.
   Omar | 2013 | Director: Hany Abu-Assad | Starring: Adam Bakri, Leem Lubany, Samer Bisharat, Eyad Hourani, Waleed Zuaiter |Palestina | 98 minutes

24 June 2016

Dheepan: Relasi Intim Orang-orang Terusir


Terkadang, hanya dengan tragedi kita jadi tahu apa-apa saja yang musti kita hargai. Barangkali, pernyataan itu yang membesarkan hati setiap orang yang pernah berperang, dan terpaksa kalah. Dampak paling menyedihkan tentu adalah kehilangan apa yang selama ini kita perjuangkan. Kita melepas apa-apa yang selama ini kita akui sebagai milik kita sendiri, dan memberikan haknya kepada orang lain. Karena tidak bisa diingkari, setiap hal yang mengatasnamakan perang selalu ada yang terasing dan terusir pada akhirnya.
Pun dengan perang saudara di Sri Lanka yang berakhir di tahun 2009. Tiger Tamil, sebagai kubu yang kalah harus menyerah, mereka ditangkap sebagai tahanan politik dan diasingkan, beberapa di antaranya memilih kabur. Orang-orang terusir ini kemudian mencari rumah baru, agar terbebas dari status buronan politik mereka harus hidup dengan identitas baru.
Dari sejarah berdarah itulah, Dheepan, film arahan Jacques Audiard ini dibangun. Untuk bisa kabur keluar Sri Lanka,  Sivadhasan, mantan anggota militer Tiger Tamil, harus menukar identitasnya dengan identitas orang-orang yang sudah meninggal. Bersama orang-orang terusir lain ia membangun kehidupan baru dengan nama baru: Dheepan. Bertiga, bersama Yalini dan Illayaal, Dheepan menjalani kehidupannya di Perancis dengan relasi barunya, sebuah institusi keluarga yang terdiri dari anggota yang saling tidak mengenal satu sama lain.
Film berlanjut menyorot kehidupan baru mereka, perihal budaya baru, penerimaan dalam lingkungan asing, penolakan-penolakan sosial, benturan-benturan emosi dalam ‘keluarga karbitan’ tersebut, hingga klimaksnya pertikaian yang kembali mereka temui dalam darah dan senjata api.
Untuk saya pribadi, yang menarik dari Dheepan (2015), selain pembahasan trauma dan bagaimana bahasa dalam lingkungan baru bekerja, adalah relasi keluarga itu sendiri yang diuraikan dengan kedalamannya sendiri.
 Dari Dheepan kita dihadapkan pada orang-orang terusir yang menerima perang sebagai produk kontradiksi. Perang melahirkan banyak hal yang terkadang mengingkari nilai-nilai yang disepakati manusia. Adalah relasi-relasi personal dan institusi keluarga yang dekat dan terikat, justru dari darah masa lalu.
Keluarga, yang biasanya dibentuk dari institusi pernikahan, dalam Dheepan justru terbentuk dari peperangan. Selama 117 menit durasi film, penonton diajak memahami relasi-relasi personal yang bukan berasal dari hubungan sedarah apalagi cinta, namun sebaliknya: perang, luka, dan patah hati-patah hati lainnya.
Dheepan | 2015 | Director: Jacques Audiard | Starring: Antonythasan Jesuthasan, Kalieaswari Srinivasan, Vincent Rottiers | 115 minutes| Languae: Tamil, French, English

31 May 2016

Yuyun dalam Monolog-monolog



“Beri aku nurani. Aku butuh seribu nurani untuk kubagi pada mayat-mayat yang menjerit dalam hati,” (I.Yudhi Soenarto)

Perempuan berseragam pramuka lengkap dengan tali pramuka warna putih tulang di bahu kirinya itu berjalan di tengah perkebunan karet. Tatapannya kosong. Ia terhenti sejenak oleh suara segerombolan laki-laki yang berusaha menggodanya di persimpangan jalan. Gerombolan itu mendekat. Perempuan berseragam pramuka itu berlari, ketakutan.
Bisa ditebak, adegan selanjutnya adalah si perempuan tertangkap. Ia menjerit. Gerombolan laki-laki itu membungkamnya. Mereka menyeretnya ke semak-semak. Sampai kemudian, mereka menelusuri kerah baju pramuka tanpa handsduk itu dan membuka kancingnya satu per satu.
Adalah sebuah potongan adegan yang direkam oleh Lensa Massa FIB UI dalam teaser Mencari Nurani. Sebuah kegiatan seni yang diselenggarakan oleh Teater Sastra UI di Auditorium Gedung IX, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Kamis lalu (26/5).
Panggung teater berubah fungsi. Beribu-ribu tahun lalu, panggung teater bisa jadi adalah tempat perayaan upacara keagamaan oleh warga Athena. Sekian waktu setelahnya menjadi panggung penghibur yang siap membuat penontonnya berteriak kegirangan dan tertawa melalui kethoprak, ludruk, pantomime, dan semacamnya. Hingga kemudian Kamis kemarin, panggung teater diubah menjadi tempat pementasan orang-orang yang bersama-sama mempertanyakan luka dan mendedah tragedi kemanusian yang terjadi di waktu terakhir ini. Sebuah upacara mistis dan perayaan tragedi: Namaku Yuyun, Aku Korban Kebodohan.
**


Saya bukan Yuyun
Saya juga bukan Eno
Ketika mereka tak bernyawa saya masih bernapas
Saya masih berdiri di sini menerima hujatan atas cara saya berpakaian
Saya masih di sini dihakimi atas bagaimana saya kurang bermoral, kurang berakhlak
Saya masih selalu mengepalkan tangan setiap kali mendengar kamu bilang
“Udah lupain aja,"
 "Udah lama kan kejadiannya, udah sembuh dong?"
 "Ah udahlah, masih banyak yang lebih parah dari kamu"
"Sudah!"

Saya bukan kamu
Yang diam saat perkosaan terjadi di luar rumahmu
Saya bukan kamu
Yang tak peduli karena “ah saya kan ngga kenal orangnya”
Saya bukan kamu
Yang tak bersuara saat tiap jam ada perempuan Indonesia direnggut kebebasannya

Saya memang bukan kamu
Maukah kamu berdiri bersama saya
Berusaha memahami apa yang saya alami
Bersuara bersama saya
Mulai bicara bersama saya

Saya bukan Yuyun
Saya juga bukan Eno
Tapi saya, kamu, kita, punya nurani bukan?
Saya, kamu, kita, punya suara bukan?

Tiga puluh menit sebelum pementasan multi-monolog, Sophia Hage, pegiat LenteraID, membacakan puisinya tersebut di selasar gedung IX FIB UI. Energinya mengalir bersama bau melati dan dupa yang dibakar di sudut-sudut ruangan, pintu masuk, dan halaman luar gedung. Ia adalah pembaca puisi terakhir. Acara pembacaan puisi itu sendiri telah berlangsung sejak dua jam yang lalu.
Mahasiswa dan penonton memenuhi selasar. Tangga tempat naik gedung telah disulap menjadi tempat duduk penonton pementasan puisi. Gambar-gambar bentuk protes terhadap kekerasan seksual dipamerkan di dinding-dinding selasar. Di pintu masuk, sekelompok mahasiswa berfoto dengan membawa papan bertuliskan “Stop blaming victims,”
“Ajari laki-laki untuk tidak memperkosa!”
“Jangan diam, ayo mulai bicara,”
“Kamu tidak sendiri, kami ada untukmu!”
Sementara itu, empat orang laki-laki berbaju hitam tengah memikul keranda hitam menuju bagian dalam auditorium. Sebuah adegan simbolis yang juga mengarahkan para penonton pementasan untuk masuk ruang teater, menuruni tangga dan menyaksikan perayaan Mencari Nurani bersama-sama.
Panggung teater didekorasi dengan warna-warna gelap. Sebelah kanan terdapat satu kursi dengan kalimat di papan tulis, “Ini Teguh. Ini Bapak Teguh. Bapak Teguh guru hebat.” Sebelah kiri terdapat satu buah kursi dengan latar belakang jeruji penjara. Bagian tengah terdapat tempat duduk panjang dengan ornamen daun-daun dan batang kering. Tiap pemain akan melakoni perannya di masing-masing tempat duduk tersebut, secara bergantian. Berbeda dengan pentas monolog pada umumnya, yang ditampilkan bukan hanya monolog satu tokoh, tapi monolog dari beberapa tokoh yang semuanya terlibat dalam satu kasus yang sama. Oleh karenanya, acara ini dinamakan sebagai multi-monolog.
**
“Mbak, saya boleh duduk di sini?” Dengan terburu-buru Viriya meminta satu tempat duduk paling depan tempat saya menaruh buku program pementasan, recorder dan kamera. Jika benar ia baru saja datang saat itu, berarti ia telah melewatkan tarian pembuka yang dibawakan oleh tiga orang perempuan anggota Nartaya Buddhaya—sebuah komunitas tari di FIB UI.
Ia kemudian mengeluarkan kamera, memotret setiap lakon. Saya mencuri lihat hasil fotonya. Ia berhenti di foto pemuda gondrong berbaju tahanan serba orange yang duduk di depan latar jeruji penjara. Sehari setelahnya, Viriya mempublikasikan foto itu di akun instagramnya dengan keterangan “Tomi Kuntet, satu dari 14 pemerkosa Yuyun di Bengkulu. Masih banyak tingkah walau sudah dibui.”
Selain Tomi Kuntet, terdapat enam orang lainnya yang menjadi lakon di multi-monolog besutan sutradara I.Yudhi Soenarto tersebut. Sang sutradara sendiri turut tampil menjadi seniman. Ikut tampil juga Niniek L. Karim (aktris dan psikolog) sebagai psikolog, Topo Santoso (dekan Fakultas Hukum UI) sebagai pengamat hukum.Tampiljuga empat anggota teater sastra UI yaitu Maftuh Ihsan sebagai wartawan, Rendy Septiadi sebagai Pak Teguh guru SMP, Rasikh Fuadi sebagai Tomi Kuntet, dan Denia Oktaviani sebagai Yuyun.
Yuyun sebagai simbol kekerasan seksual dan duka kemanusiaan dihadirkan dari perspektif tujuh orang tersebut. Secara bergantian mereka menuturkan monolog mereka masing-masing. Penonton diajak mempertanyakan bersama-sama dengan melihat dari sudut pandang korban, pelaku, wartawan, ahli hukum, psikolog, pengajar, dan budayawan, “Jadi, siapa yang salah?”

**

Ia lelaki di simpang jalan
Tengadah kepala memandang bulan
Seekor kunang-kunang membuatnya gamang,
Apa yang hilang sudaraku, apa yang hilang?

Nyanyian dan petikan gitar I.Yudhi Soenarto menyita fokus penonton. Sebuah musikalisasi puisi “Mencari Nurani” yang pernah ia tulis tujuh belas tahun yang lalu.