Pages

23 September 2016

Hikmat Darmawan: Kritik Film Bukan Pemandu Belanja




Tidak sedikit kalangan yang menolak ketika media mendudukkan tulisan-tulisan film di meja hiburan. Sebagai hiburan, film hanya ditulis ala kadarnya. Beberapa di antaranya menanggapi dengan membuat media sendiri terkait kajian dan telaah film. Salah satunya Hikmat Darmawan.
Hikmat adalah satu dari sejumlah kritikus dan jurnalis yang sempat menghidupi RumahFilm—perhimpunan yang bergerak memajukan kajian dan telaah yang berkait dengan film Indonesia. Selain Hikmat, ada sejumlah nama yang sampai sekarang masih aktif berkegiatan di dunia film, seperti Krisnadi Yuliawan, Asmayani Kusrini, Eric Sasono, Ekky Imanjaya, dan Ifan Ismail. Situs RumahFilm kini sudah tak aktif, tapi tak bisa dipungkiri, selama kehadirannya RumahFilm banyak menyumbang gagasan dan perspektif menarik seputar film Indonesia, bahkan menjadi rujukan untuk generasi baru kritikus dan jurnalis film di Indonesia.
Selain film, Hikmat Darmawan juga gemar mengamati dan menikmati budaya pop, khususnya komik. Dia turut serta menggerakkan kegiatan budaya di Indonesia dengan mendirikan berbagai organisasi, yaitu Musyawarah Burung, Akademi Samali, dan Pabrikultur.
Pada 20 November 2015, Hikmat Darmawan menyanggupi ajakan redaksi Cinema Poetica untuk bertemu dan berdiskusi. Meski baru pulang dari Frankfurt, lelaki berzodiak Gemini ini tampak segar dan bersemangat meladeni kami. Kami bertemu di salah satu tempat kesukaan beliau mencari buku: basement Blok M Square, Jakarta Selatan. Selama kurang lebih dua jam, kami berbincang seputar kritik film dan film-film Islam di Indonesia.
Ulasan film di Indonesia, menurut amatan Mas Hikmat selama ini, apa saja ragamnya? Dan bagaimana kualitasnya?
Saya membaca ulasan film sejak SD. Dulu, pada akhir 1970an dan awal 1980an, informasi tentang film hanya dari media massa. Ada dua yang menonjol, harian Kompas dan majalah Tempo.
Kemudian, pada 1980, informasi tentang film mulai banyak. Ada dua majalah yang sangat kuat penulisan filmnya, yaitu majalah Zaman dan Jakarta-Jakarta. Di majalah Zaman, ada artikel panjang tentang film. Menariknya, di majalah Jakarta-Jakarta, orang-orang yang menulis tentang film adalah para sastrawan, seperti Seno Gumira Ajidarma, Danarto, Putu Wijaya. Mereka menulis tentang Jackie Chan, Jaka Sembung, dan sebagainya. Seno juga banyak menulis di majalah Zaman.
Di Tempo, ada Salim Said. Dia sarjana politik dengan bidang khusus militer, yang kemudian sangat mendalami film. Dia sering mengulas festival-festival film. Di Kompas, ada Marselli [Sumarno]. Juga ada JB Kristanto, yang seperti kita tahu masih konsisten sampai sekarang.
Media-media itu memberikan ulasan yang cukup cerdas. Jadi bayangkan waktu itu, dari segi ulasan film, resensi pun sangat kaya. Untuk resensi pendek saja, yang nulis bisa jadi seorang sastrawan yang waktu itu masih aktif. Tulisan film mereka, walaupun pendek, ditulis dengan bahasa Indonesia yang baik dan analitik. Penonton serasa dituntun, dan sudut pandang yang digunakan kaya dan tajam. Saya yang masih SD pun bisa mengerti. Dan itu penting. Karena waktu itu belum ada internet dan sumber informasi yang lain. Saya hanya bisa mendapat informasi dari media-media itu.
Pada pertengahan 1980an, ada satu acara di TVRI yang memberi ulasan tentang film. Saya lupa nama acaranya. Sedikit sih bahasannya, tapi saya jadi tahu informasi soal dunia film, selain dari media cetak tentunya.
Secara kuantitas, tentu saja resensi pendek yang lebih banyak tersedia bagi publik. Yang paling menarik di majalah Jakarta-Jakarta, beberapa film dibahas secara khusus satu sampai dua halaman beserta uraian pendek. Di samping kolom, ada rating film itu oleh beberapa sastrawan. Misalnya, untuk film Angel Heart [karya Alan Parker pada 1987], SGA memberi bintang empat, Danarto bintang dua. Seru sekali, penonton jadi semakin penasaran.
Kalau di majalah Zaman, penilaiannya pakai tanda—untuk sinematografi, misalnya, pakai ikon kamera, dan sebagainya. Sekarang saya dapat lagi majalah Zaman, seluruh edisi, dari awal terbit sampai akhir. Saya baca-baca lagi, sering sih ulasannya sotoy-sotoy gitu. Wah saya nonton film kaya begitu dulu. Menyenangkan sekali. [Tertawa]
Dari situ, kita bisa tahu kalau dulu tulisan tentang film itu diperhatikan, dilakukan dengan penuh pertimbangan. Tidak ditulis sembarangan atau oleh sembarang orang, walaupun sistemnya redaksional atau penugasan. Danarto, misalnya. Dia menulis tentang film karena dia kerja untuk Zaman. Tapi Danarto sendiri, sebagai seorang sastrawan, punya kemampuan menulis yang mumpuni. Sehingga bagaimanapun juga, sudut pandangnya unik. Saya jadi terlatih karena membacanya.
Setelah Zaman mati, hadir Matra pada 90an. Rezim Orde Baru kan cukup ketat ya membatasi penerbitan. Ada yang namanya surat izin penerbitan, jadi nggak sembarang koran atau majalah bisa terbit. Nah, di Matra itu sering masuk tulisan bagus, salah satunya Joko Anwar. Dia mengawali karier perfilmannya dengan menulis. Jakarta Post juga bagus, meski waktu kecil saya tidak pintar bahasa Inggris. [Tertawa]
Produksi film mulai surut pada 90an. Pada saat yang sama, televisi swasta bermunculan. Ada satu-dua acara yang mengulas film, walau secara umum banyak pekerja film yang pindah ke televisi. Waktu itu juga, saya mulai menulis untuk Republika. Dan saya merasakan bahasan tentang film di media-media makin sedikit. Kompas tidak lagi mengulas film—kalaupun ada, paling dengan sekadar sistem bintang. Kompas buat saya makin lama makin sembarangan. Baru bagus kalau Mas JB [Kristanto] atau Danarto yang menulis. Itupun karena mereka diundang untuk menulis esai, feature, resensi, dan sebagainya.
Penulisan tentang film waktu itu lebih banyak saya temukan dalam bentuk buku. Kebanyakan kajian film. Nggak hanya esai, tapi juga tulisan akademik. Dari situ saya lanjut belajar tentang film. Apalagi, waktu itu, wawasan internasional mulai terbentuk karena saya mulai mengakses perpustakaan. Buku-buku tentang film mulai bisa diakses dengan mudah.
Pada 2000an ini, kelihatan sekali rubrik film di banyak media diisi oleh orang-orang yang tidak menguasai film. Film masuk meja hiburan, dan sebagai hiburan, film hanya ditulis ala kadarnya. Tidak ada perhatian sungguh-sungguh. Bahkan untuk data. Banyak sekali kesalahan dalam penulisan, bahkan di media sekelas Kompas.
Contohnya?
Contohnya, mereka menulis Bourne Identity sebagai film sains-fiksi. Atau Vertigo adalah adaptasi novel Alfred Hitchcock. Parahnya, itu terjadi pada zaman internet. Tinggal cek Google. Sangat sembarangan. Tidak ada kedalaman. Film dianggap remeh, sekadar hiburan. Yang kebagian nulis adalah wartawan-wartawan baru.
Dari situ, saya dan teman-teman jelas tidak puas. Mendingan bikin media sendiri deh kalau gitu, pikir kami. Kemudian lahir RumahFilm dan blog-blog lainnya.
Menurut Mas Hikmat, penonton sendiri butuh ulasan seperti apa?
Menurut saya, penonton nggak butuh, karena sebenarnya banyak penonton merasa tak butuh baca ulasan orang lain. Kalaupun butuh, ulasan tertentu saja. Sekadar consumer guide, sebuah panduan menonton—film-film yang kalaupun kamu tonton, kamu nggak bakal rugi duit. Mereka cuma butuh panduan belanja, belanja karcis. Asumsinya, yang paling dicari adalah yang hiburannya paling tinggi.
Karena dasarnya itu, ulasan yang dibuat pun sekadar penulisnya suka atau tidak suka, kamu bakalan suka atau nggak. Tidak ada argumen kritik di situ. Kritik hanya sebatas apa yang penulis anggap tidak menyenangkan, sehingga membuatnya rugi. Ulasan model seperti itu yang sekarang melimpah ruah di online. Sekarang ini, ketika orang sudah merasa rajin menonton, dia merasa dia bisa kasih tahu orang lain. Tak ada kebutuhan besar untuk mendapatkan tulisan yang kritis.
Tapi ada juga kritik film yang sifatnya akademis, yang terkadang bocor ke media massa, berupa esai. Dulu di Bentara Budaya kadang-kadang muncul Eric Sasono, Mas JB juga. Mereka menulis bukan tentang filmnya saja, tapi lebih luas lagi dari itu. Ulasan mereka selalu berdasar pada teori dan wacana tertentu.
Bagi Mas Hikmat, apa tugas seorang kritikus?
Tulisan kritik adalah menjembatani film dengan penonton. Si kritikus harusnya berfungsi bukan sebagai pemandu belanja, dan tidak lagi berdasar pada suka atau tidak suka. Dia bertanggungjawab memperkenalkan apa yang ia anggap sebagai tontonan baik, secara estetis maupun sosial. Tugas dia adalah membuat orang yang mungkin nggak kenal menjadi kenal, tahu, bahkan tertarik pada berbagai cara pandang alternatif terhadap film.
Seberapa penting penonton butuh tahu ulasan film seperti itu?
Tergantung penontonnya macam apa. Penonton film kan macam-macam jenisnya. Ada penonton bioskop—apapun yang diputar di bioskop, dia bakal tonton. Biasanya dia hanya punya motif umum: belanja. Dia memperlakukan film sebagai belanja. Biasanya tujuannya adalah pacaran, PDKT, hiburan, atau pelepas stres. Jadi, mereka memilih film hanya berdasar pada tingkat kepuasan tertinggi—yang paling menghibur. “Udah gue capek-capek kerja, di tempat kerja mikir, ngapain gue mikir juga pas nonton.”
Ada penonton yang mencari lebih dari hiburan, atau hiburan khusus. Misalnya, film yang bikin mikir. Biasanya mereka memperhatikan lebih mendetail, lebih banyak unsur film yang ditelaah. Mereka butuh ulasan yang mendalam.
Ada juga penonton yang ingin bikin film. Mereka lebih perhatian pada hal-hal yang sifatnya teknis. Cerewet sekali dengan gerak kamera, misalnya. Ada juga penonton-penonton yang di luar itu, mereka yang mau mendapat tuntunan. Ibu-ibu pengajian, misalnya.
Nah, butuh tulisan yang lebih dari sekadar hiburan. Tulisan mendalam tentang film itu ceruknya khusus. Kemungkinan pembacanya antara akademisi, orang yang belajar film, atau yang memang geek, yang ingin mendapat hiburan intelektual, baik dari membaca maupun menonton film.

20 September 2016

Gibran Rakabuming Raka: Biasa Nonton Film Biasa



Orang biasa. Dua kata itu termaktub dalam biografi singkat Gibran Rakabuming di Twitter. Nampak bahwa Gibran tidak ingin diperlakukan istimewa—apalagi terus-menerus dikaitkan dengan sosok sang ayah. Nyatanya, ia memang bebas dari jatah politik maupun investasi gratisan. Kelakuannya di dunia maya pun tak ubahnya masyarakat biasa: gemar berteori, promosi, dan meledek Presiden Jokowi. Ya kurang lebih seperti kita-kita ini.
Semangat kesetaraan itulah yang memungkinkan Bung Gibran hadir sebagai bintang tamu untuk Film si Fulan. Tak ada alur protokoler untuk membuat janji wawancara dengan putra sulung Jokowi ini. Dia hanya meminta kami mengirim daftar pertanyaan terlebih dahulu. Kalaupun ada kesulitan, paling banter perkara penentuan waktu. Maklum, waktu Gibran banyak tersita oleh bisnis kulinernya.
Kecintaan Gibran dengan bisnis kuliner sungguh menarik, dan juga membuat saya penasaran. Adakah film yang menjadi rujukannya selama ia berbisnis? Apakah ia menyukai film-film kuliner macam Chocolat (2000), Big Night (1996), The Hundred-Foot Journey (2014), atau bahkan Tabula Rasa (2014)? Berbagai dugaan pun beredar di benak saya, yang akhirnya terjawab dalam wawancara melalui sambungan telepon pada 18 Januari 2016.
Sebelum menelpon, saya telah siap dengan pena dan kertas catatan. Saya siapkan juga alat perekam suara, jaga-jaga bila jawabannya panjang. Ketika telepon saya tersambung dengan nomor Gibran, terdengar nada sambung dari lagu yang dinyanyikan Neneng Anjarwati bersama Adi Dosteng: Goyang-goyang Senggol. Tak lama kemudian, Gibran mengangkat teleponnya.
Setelah cukup berbasa-basi, saya langsung menanyakan pertanyaan pamungkas yang sudah disiapkan. Adakah film yang jadi rujukanmu selama kamu berbisnis kuliner? Gibran diam sesaat. Curiga jawabannya bakal panjang, saya pun pasang kuda-kuda untuk mencatat.
“Nggak terlalu ngikutin, sih,” jawabnya.
Kemudian hening.
Beberapa detik berselang. Masih hening. Krik krik krik.
Saya coba konfirmasi ulang, adakah film atau acara televisi yang berkaitan dengan kuliner yang membuatnya bersemangat menekuni pekerjaannya sekarang?
“Saya jarang nonton TV.”
Oke. Biasa nonton di mana, Mas Gibran?
“Bisa di mana saja.”
Mantap.
Jawaban-jawaban singkatnya sempat membuat saya patah hati. Untungnya, belum sampai patah arang. Saya pun kembali bertanya mengenai film-film yang berkesan dalam hidupnya. Pokoknya harus muncul judul film, pikir saya. Masa iya sosok seasyik Gibran tidak nonton film?
Gibran lantas menyebutkan lima judul film: Human Centipede (Tom Six, 2009); Memento (Christopher Nolan, 2000); Hostel (Eli Roth, 2005); Ichi the Killer (Takashi Miike, 2001); dan Oldboy (Park Chan-wook, 2003). Secercah cahaya pun muncul, meski tak satupun dari film-film itu yang berhubungan dengan makanan. Human Centipede tentu saja bukan makanan.
Ketimbang membahas satu-satu, Gibran lebih memilih bercerita tentang Christopher Nolan, salah satu sutradara yang ia kagumi. Film-filmnya cerdas.
“Dari semua karya Nolan, Memento terbaik,” ujar Gibran.
Selain Nolan, Gibran juga mengagumi Quentin Tarantino. Saya kemudian menyebut The Hateful Eight, film Tarantino yang waktu itu sedang tayang di bioskop. Ia mengaku belum sempat menonton, namun ia pastikan akan menonton film itu secepatnya.
Gibran menyebutkan beberapa film lain, seperti Oldboy dari trilogi Vengeance karya Park Chan-wook—dua lainnya adalah Sympathy for Mr. Vengeance (2002) dan Sympathy for Lady Vengeance (2005). Dari ketiganya ia merasa Oldboy yang mempunyai twist paling kuat. Ketertarikannya dengan Oldboy memantik saya untuk mengobrolkan film-film Korea yang lain. Sebagai pecinta film-film Kim Ki-duk, saya merasa terpanggil untuk merekomendasikan Gibran menonton Pieta dan Mobieus, yang ternyata belum sempat ia tonton.
Untuk urusan menonton film, Gibran lebih memilih menonton di bioskop. Terkait ini ia juga bercerita tentang agenda menonton di bioskop bersama kedua orangtua dan adik-adiknya, yang menurutnya diberitakan media sosial dengan sedikit berlebihan. Ia mengirimkan screenshot dari sebuah komentar di media sosial, “Presiden macam mana lah kau ini! Kerja, kerja, kerja. Kerjaanmu cuma nonton bioskop [sa]ma konser ternyata.” Ia bercerita bahwa waktu itu ia sedang liburan, dan mereka sekeluarga sedang akan menonton Comic 8 (Anggy Umbara, 2014).
Sampai wawancara ini berlangsung, film terakhir yang Gibran tonton adalah Star Wars Episode VII: The Force Awakens (JJ Abrams, 2015). Kemudian saya menanyakan adakah tokoh dalam Star Wars yang ia kagumi karakternya. Alih-alih menjawab Han Solo, Luke Skywalker, atau malah BB-8, ia dengan segera mengalihkan pembahasan dan mengaku lebih suka Star Trek ketimbang Star Wars. Wah. Gibran ternyata seorang trekkers. Bisa jadi.
Berdasarkan selera filmnya tersebut, saya tentu penasaran perihal sejauh mana arti film untuknya. Bagi Gibran, menonton film hanyalah hobi, di antara kegemarannya main futsal dan main PlayStation 4. Lantas, bagaimana tanggapannya tentang game-game yang diadaptasi dari film layar lebar?
“Kebanyakan gagal sih. Nggak seru.”
Sikap.
Saya menanyakan game adaptasi film yang Gibran pernah mainkan. Ia menyebut satu di antaranya adalah Star Wars Battlefront. Gibran juga menyebutkan beberapa film yang sangat ia tunggu tahun ini. Dua di antaranya: Deadpool dan Fantastic Beasts and Where to Find Them.
Pada akhir sambungan telepon, saya mengajaknya berimajinasi: jika dia diperbolehkan hanya membawa lima film, untuk ia tonton berulang-ulang sampai akhir hayat, film apa yang akan ia pilih?
Gibran menyebutkan Battle Royale (Kinji Fukasaku, 2000); Inception (Christopher Nolan, 2010); The Sixth Sense (M. Night Shyamalan, 1999); Donnie Darko (Richard Kelly, 2001); dan Predestination (Michael Spierig, 2014).
Gibran, dengan selera film dan kebiasaannya menonton itu, sekali lagi menegaskan tentang pribadinya sebagai ‘orang biasa’, yang punya hobi selayaknya orang pada umumnya. Barangkali, ia juga gemar mengulang-ulang nonton film yang sama ketika sedang luang, bosan, atau patah hati. Ya kurang lebih seperti kita-kita ini.

17 September 2016

Menonton Penonton Europe on Screen 2016



Europe on Screen merupakan prakarsa bersama perwakilan Eropa di Indonesia. Awalnya, perhelatan tahunan itu bernama Festival Film Eropa—pertama kali diselenggarakan pada 1990 kemudian pada 1999. Barulah pada 2003, festival tersebut berganti nama jadi Europe on Screen dan konsisten diselenggarakan setiap tahunnya sampai sekarang.
“Europe on Screen bertujuan untuk mendekatkan Eropa dengan Indonesia. Film-film yang kami tayangkan merupakan jendela untuk penonton Indonesia melihat Eropa lebih luas,” jelas Vincent Guérend, duta besar Uni Eropa di Indonesia.
Melalui pemutaran film, Europe on Screen menjadi semacam bentuk diplomasi dan branding Uni Eropa di Indonesia. Prinsip serupa turut dijalankan oleh sejumlah festival negara Eropa lainnya di Indonesia, seperti Festival Sinema Prancis oleh Institut Français d’Indonésie dan German Cinema oleh Goethe-Institut. Perbedaannya: skala. Dalam Europe on Screen, penonton diajak berkenalan dengan keragaman budaya, politik, dan sejarah suatu kawasan.
Ruang Tayang
Europe on Screen, pada edisi ke-16 ini, menyajikan 78 film dari 22 negara di Eropa selama 29 April sampai 8 Mei 2016. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, Europe on Screen membawa film-film ini ke sejumlah kota di Indonesia, berkolaborasi dengan pusat kebudayaan negara Eropa dan ruang kegiatan di masing-masing kota.
Di Jakarta, Europe on Screen hadir di Erasmus Huis, Goethe-Institut, Institut Français d’Indonésie, Istituto Italiano di Cultura, Bintaro Jaya Xchange Mall, dan Institut Kesenian Jakarta. Di luar Jakarta, Europe on Screen hadir di IFI Bandung, IFI Surabaya, IFI Yogyakarta, Rumah Sanur Creative Hub Denpasar, Dynasty Resort Denpasar, dan Grand Aston City Hall Medan.
Bagi Permata Adinda, pegiat Liga Film Mahasiswa Institut Teknologi Bandung, Europe on Screen perlu hadir di kotanya. Karena, selain IFI, informasi film-film Eropa di Bandung masihlah terbatas. Europe on Screen membuka kesempatan bagi warga Bandung untuk menonton film dari berbagai negara Eropa. “Bagi saya, film-film Ukrania dan Rusia sangat berkesan. Dari Europe on Screen juga, saya tahu perkembangan teknis visual di negara semacam Rusia sudah sangat maju,” jelasnya.
Beda lagi dengan di Bali. Bagi Diah Dharmapatni, penanggungjawab kegiatan budaya Alliance Française Bali, acara semacam Europe on Screen harus lebih banyak ada lagi di Bali. Pasalnya, jumlah bioskop di Bali masih terhitung sedikit—itupun terpusat di Denpasar.
Diah Dharmapatni menyambut baik pemilihan lokasi pemutaran tahun ini.”Tahun ini kebetulan [Europe on Screen] di Rumah Sanur, yang merupakan pusat komunitas dan industri kreatif di Bali. Berbeda dengan tahun lalu. Venue tahun ini tidak hanya duduk di kursi, tetapi juga menyediakan lesehan. Makin seru, makin beragam,” tambahnya.
Permata Adinda juga bersepakat dengan pemilihan lokasi pemutaran di Bandung. “Lokasi pemutaran di Bandung sudah yang paling strategis. Lebih strategis dan lebih terbuka dibanding tahun lalu, yang venue-nya terdapat di kampus-kampus yang lokasinya lebih jauh,” katanya.
Untuk pemilihan lokasi pemutaran di kampus, Adinda Zakiah—mahasiswa FISIP Universitas Indonesia—kurang lebih berpendirian serupa. “Tujuannya kan memang untuk membangun branding Eropa, jadi lebih pas di kedutaan dan pusat-pusat kebudayaan, bukan di kampus. Aku juga suka suasana kedutaan, terlebih dengan informasi pagelaran budayanya,” kata Adinda Zakiah.
Tontonan Alternatif
Europe on Screen 2016 mendapat tanggapan baik dari penonton Indonesia. Selama sebelas hari penyelenggaraan, tercatat sekitar 22.000 penonton mengisi dua belas lokasi pemutaran. Sebuah pencapaian yang mengagumkan, yang juga bisa dipahami mengingat Europe on Screen merupakan satu dari sejumlah festival yang menawarkan tontonan alternatif bagi khalayak Indonesia. Bagaimanapun juga publik butuh selingan, terutama dari sajian harian bioskop dan televisi selama ini.
“Biar nggak Hollywood terus. Apalagi gratis,” jelas Adinda Zakiah, tertawa. “Film-film Eropa berbeda dengan film-film Amerika yang selama ini kita tonton di bioskop. Bisa memberi sudut pandang baru buat penonton Indonesia.”
Pendapat serupa turut dilontarkan Iman Kurniadi—penonton dan penikmat film. Menurutnya, datang ke festival semacam Europe on Screen turut meluaskan wawasan menonton, bahwa film tidak hanya yang ada di bioskop atau film Hollywood saja. Film-film Eropa tidak kalah menarik. “Penceritaannya beda. Lebih otentik, lebih genuine. Hype penontonnya juga keren. Ngantri tiket bareng, ngantri masuk ruang pemutaran juga bareng,” jelasnya.
Beda lagi dengan Narindro Aryo Hutomo. Bagi sutradara Guna-guna itu yang akrab dipanggil Rendro, Europe on Screen penting sebagai tempat persinggahan karya dan gagasan dari Eropa. Ia bisa melihat kehidupan sosial dan budaya di sana, baik melalui fiksi, dokumenter, hingga animasi.
“Eropa sendiri dikenal sebagai asal muasal munculnya film. Mulai dari Lumière bersaudara memutar film pertama kalinya pada 28 Desember 1895. Prancis adalah titik balik perkembangan sinema. Dengan sinema kita bisa saling berbagi, tidak terbatas lokasi, jarak, ruang, dan waktu. Oleh karenanya, Europe on Screen penting untuk terus ada, sebagai wadah berbagi, baik antara pembuat film dengan penonton, maupun penonton dengan penonton,” ujarnya.
Keragaman Film
Sajian film dalam Europe on Screen dikelompokkan dalam enam sesi: Xtra (film-film arus utama dan boxoffice), Discovery (bukan film arus utama), Docu (dokumenter), Retro atau Focus, Family, dan Open Air. Tahun ini Europe on Screen dibuka dengan Long Live Freedom karya Roberto Andò dan ditutup dengan The Surprise karya Mike van Diem.
Menurut Iman Kurniadi, Long Live Freedom sangat mewakili situasi perpolitikan Italia pada masanya—dan, baginya, kita perlu tahu itu. Film ini, dalam pengamatannya, dibuat dari sebuah kegelisahan. Seperti ada pesan yang ingin disampaikan, bahwasanya tidak ada perbedaan antara politikus dengan orang yang mempunyai kelainan kejiwaan. Oleh karenanya, Long Live Freedom jadi begitu kocak sekaligus satir. “Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini tidak ada kompetisi film pendek. Sayang sekali. Saya ingat sekali, di Europe on Screen 2013, saya ngobrol bersama Wregas [Bhanuteja], setelah menonton Senyawa, filmnya,” tambahnya.
Orizon Astonia, sutradara Pingitan dan Lewat Sepertiga Malam, paling tertarik dengan program Discovery. Baginya, film-film pilihan dalam program itu bisa membantunya menjelajahi berbagai rujukan rasa, baik untuk kepentingan penyutradaraan maupun untuk memahami perasaan sebagai manusia. Orizon menyukai The Lobster, film Yorgos Lanthimos, yang tayang di Europe on Screen tahun ini. Menurutnya, Lanthimos punya gaya tersendiri dalam mengarahkan filmnya. The Lobster berhasil membuatnya menertawakan persoalan jatuh hati—salah satu tragedi fundamental dalam hidup manusia.
Berbeda dengan Orizon, Rendro lebih tertarik dengan Recital Film Scoring yang diselenggarakan oleh Sjuman Music School. Program tersebut memutar sejumlah film pendek Georges Méliès, dari 1898 sampai 1911, dengan iringan musik Trinity Youth Symphony Orchestra. Sebelumnya ia pernah menonton A Trip to the Moon, film Méliès pada 1902, di kanal Youtube. Menonton kembali film yang sama dengan diiringi musik orkestra, baginya, adalah sebuah pengalaman menarik.
Bagi Ali Satri Efendi, pengelola Sinema Rabu, ada satu film penting yang terlewat dan tidak ditayangkan di Europe on Screen tahun ini: Son of Saul karya László Nemes. “Para penggemar film-film Eropa pasti juga berharap Son of Saul tayang. Film ini penting karena merupakan unggulan Festival Cannes, terlebih lagi menang di Golden Globe dan Oscar. Sayang sekali tidak ada di Line up tahun ini, mungkin tahun depan.” Katanya.
Albertus Wida, pegiat Liga Film Mahasiswa Institut Teknologi Bandung, menyayangkan perihal film-film yang ditayangkan di kotanya. “Aneh kenapa film yang tayang di Bandung tidak sama dengan yang tayang di Jakarta dan kota-kota lain. Di Bandung, hitungannya cuma sebentar, dan film-filmnya sedikit. Dan katanya juru programnya juga bukan orang Bandung,” tambahnya
Satu usulan tambahan dari Orizon: catatan kurasi di katalog Europe on Screen. “Jadi kita bisa baca latar belakang pemilihan film-film tersebut. Nggak sekadar sinopsis,” jelasnya.
Catatan untuk Tahun Mendatang
Europe on Screen berikutnya diharapkan bisa menjaga, atau bahkan meningkatkan keragaman programnya. Nyatanya, Europe on Screen sudah berhasil menyentuh perhatian penontonnya. Dari tahun ke tahun, festival ini sudah punya penonton setianya. Perhatian penonton inilah yang harus terus dipertahankan dari tahun ke tahun, dengan mengupayakan kebaruan serta keragaman dalam setiap penyelenggaraan Europe on Screen.
Bagi Iman Kurniadi, jika tahun ini terdapat pemutaran dengan iringan musik orkestra, tahun berikutnya harus lebih bervariasi lagi. Bisa ditambah performans, pertunjukan teater, musik folk, atau tarian. Ia juga mengusulkan untuk ditambahnya program film-film pendek Eropa.
Iman juga memberi catatan terkait subtitle, karena ada beberapa film yang tidak berteks dari awal sampai akhir. Film-film tersebut memang sepenuhnya dalam bahasa Inggris, teks tetaplah dibutuhkan penonton. “The Cut berbahasa Inggris, tetapi tidak ada subtitle. Saya rasa penonton tetap butuh subtitle, walau [filmnya] bahasa Inggris sekalipun,” tambahnya.
Panji Mukadis, pegiat infoscreening.co, berharap Europe on Screen berikutnya lebih banyak mendatangkan sineas dan tokoh perfilman. Ia juga berharap Uni Eropa melalui bisa turut terlibat dalam perkembangan perfilman dan kegiatan komunitas film. Europe on Screen bisa jadi titik mulanya, karena ia berharap kolaborasi tersebut bisa berlangsung secara rutin dan tidak terbatas waktu acara.
Untuk penayangan Europe on Screen di Bali, Diah Dharmapatni mendapati banyak penonton yang menanyakan kurangnya film keluarga tahun ini. “Semua film untuk usia dua belas ke atas. Jadi harapannya, tahun selanjutnya, bisa lebih banyak ada film keluarga,” katanya.

16 September 2016

Dari Twitwar ke Twitwar: Medioker Mana Saja yang Dituding Arman Dhani?

Terkadang membeli buku adalah perihal memberi kejutan untuk diri sendiri. Yah… Sesedih itu memang. Dan memutuskan untuk tidak mencari tahu tentang buku yang akan dibeli bisa jadi pilihan bijak untuk para pemalas seperti saya. Dari Twitwar ke Twitwar, misalnya. Anggap saja saya membelinya karena alasan tunggal: penulisnya-Arman-Dhani-jadi-saya-perlu-beli-buku-ini. Titik.
Saya memang tak berekspektasi apapun dengan buku Dhani ini. Terlebih berpikiran negatif, seperti ‘ah, ini cuma kumpulan tulisan dan/atau twit-twitnya Dhani yang dibukukan’. Kendati seingat saya dulu dia pernah nyinyir terhadap semua buku yang isinya merupakan kumpulan tulisan yang pernah diposting di media sosial. Namun, setelah membaca buku ini sampai selesai, saya kemudian belajar, bahwa berpikir positif tidak selamanya menyehatkan.
Terlepas dari itu semua, saya percaya Dhani bukan tanpa alasan sudah berbaik hati membukukan sebagian banyak tulisannya—tentu selain untuk mendukung Buku Mojok yang tengah rajin-rajinnya menerbitkan buku. Dan daripada saya menebak-nebak apa yang terjadi sebenarnya, akan lebih menarik jika saya iseng-iseng menuding siapa saja sasaran Dhani dalam buku Dari Twitwar ke Twitwar.
Manusia-Manusia Dungu yang Gagal Melihat Perbedaan Sebagai Fitrah
Itu istilah Dhani, lho. Blio memang senang mengistilahkan seseorang/sekelompok orang dengan lebih panjang. Seperti juga, “manusia-manusia minim prestasi atau rendah pengetahuan yang menciptakan berhala-berhala baru mereka di media sosial”. Yaowoooh, membaca istilah tersebut, saya membayangkan Dhani seperti tengah berbusa-busa meneriaki patung Pancoran di tengah sekelompok orang yang khyusuk twitteran.
Balik ke topik. Dengan membaca tulisan-tulisan Dhani, saya bisa bilang, secara khusus, dia sebenarnya menyasar ‘orang-orang nomor (1)’, naif dalam membaca peristiwa dan memutuskan keberpihakan. Dia menyinggung mereka yang melakukan kekerasan atas nama agama, makhluk-makhluk yang gampang marah dengan demo buruh, manusia-manusia yang dengan mudah menghitam-putihkan ibukota, dan lain sejenisnya.
Pertanyaan kemudian, kira-kira jadi apa ‘orang-orang nomor (1)’ itu setelah membaca buku ini? Dhani mungkin akan menjawab, tergantung, sejauh mana mereka bertekad bersetia dengan kedunguan mereka sendiri.
Feminis
Dari beberapa tulisan di buku ini yang terkait dengan perempuan, bisa dimengerti bahwa Dhani tengah rajin memproklamirkan diri kepada mbak-mbak dan mas-mas feminis, perihal keberadaannya, sebagai seorang yang juga mempunyai tujuan yang sama, entah sebagai pembela hak perempuan atau sekadar sebagai selebtwit yang memperluas daerah kerjanya. Tidak salah tentu saja, selama itu bermanfaat.
Dengan Arman Dhani yang sudah bergabung di barisan pejuang yang ini, bersiaplah, berhati-hatilah, siapapun dari kalian yang lebih suka memandang, menikmati, merendahkan keberadaan perempuan, dan kerap menasihati mereka untuk belajar menjaga diri dan selangkangan. Allahu Akbar!
Pasangan Lintas Agama
Bagi yang sudah akrab dengan tulisan Dhani, otomatis juga akan akrab dengan mantan pacarnya yang beda agama, yang sering ia bawa-bawa di tulisannya, sebagai trivia. Meski begitu, Dhani sebenarnya ingin memberi semangat kepada pasangan lintas agama, bahwa bukan cuma mereka saja yang jatuh cinta dan merasakan perih bersama-sama, dia juga iya, dulu. Iya, dulu, yang oleh karenanya sampul buku ini saja bertuliskan mantan.
Tapi, ah, tidak cuma kalian saja yang merasakan perihnya beda agama kok, tidak pula Dhani semata, saya juga pernah, dan sialnya itu berjalan tak cuma sebulan-dua bulan, tapi tiga tahun–iya ini curhat. Dengan laki-laki (tentu saja), Kristen, Cina pula. Tapi bedanya, saya sudah berdamai, sedang Dhani menolak lupa.
Lalu apakah yang pertama lebih mulia dibanding yang kedua? Tentu saja tidak. Selebtwit selalu punya alasan untuk menolak lupa, seperti juga selalu punya alasan untuk menolak tidak twitwar.
Orang-Orang yang Selama Ini Menganggap Eksistensi adalah Hal Utama
Dhani sendiri yang mengatakan bahwa kutukan paling mengerikan dari menjadi manusia ialah kebutuhan untuk bereksistensi. Dan respons paling menjijikkan selama ia dikukuhkan menjadi selebtwit adalah: menolak dilabeli tetapi menikmati. Menolak dianggap sebagai rockstartwit, tetapi menikmati segala kemewahan berkat stereotipe tersebut.
Tetapi, kadang kita semua memang tidak bisa menolak, terlebih saat ada kesempatan untuk mengekspresikan diri, menjadikan diri sendiri dikenal, dan kemudian terkenal. Dan jika kalian butuh menciptakan kesempatan itu sendiri, Arman Dhani adalah guru tanpa tanda jasa.
Saya sendiri percaya, dengan kemampuannya sebagai mesin kata-kata, suatu saat Dhani akan mendapatkan balasan yang setimpal, entah dari dedek-dedek gemez yang sebatas hora-hore saja, orang-orang yang aslinya sudah pemarah tapi dibuat menjadi lebih ngamuk gara-gara Dhani, atau mereka yang masih betah merayakan mediokritas. Entahlah. Bisa dari siapa saja.
Joko Anwar pernah menyebutkan bahwa banyak film Indonesia yang mean spirited, auranya jahat. Filmmaker seakan-akan bikin film cuma pengen bilang, “Gue hukum nih penonton dengan nonton film gue”. Dan kecenderungan tersebut yang dewasa ini hidup, tumbuh, berkembang di lingkup penulis dan pembaca. Sudah dari dulu, sih. Bedanya, sekarang lebih vulgar.
Seiring dengan perkembangan gawai cerdas dari 2G menjadi 3G dan denger-denger sekarang sudah ramai 4G, bertambah rajin juga masyarakat menulis apapun di manapun. Beberapa penulis—orang-orang yang menulis, sadar atau tidak, merasa perlu melempar durian utuh ke kepala pembaca untuk membuat pembacanya ngerti.
Tentu saja saya tidak melulu membicarakan Dhani, apalagi menyalahkannya. Karena saya sendiri semakin sadar, bahwa membicarakan mean spirited bukan lagi perkara boleh-tidak boleh, perlu-tidak perlu, atau penting-tidak penting. Lha wong ini sudah menjadi style menulis kita semua, kok.

13 September 2016

Women and Their Choices in Indonesian Contemporary Films



Every woman is born with the right to rule her own body, but that’s not how the movies always portray it, particularly Indonesian movies. Fortunately, three recent films chose to be different in conveying this issue frankly.

In September, the University of Indonesia’s cinematography club held its second UI Film Festival (UIFF) with the theme Celebrating Diversity. One of the programs highlighted the role of women in film with the screening of Kisah Cinta yang Asu (Love Story Not, 2015) by Yosep Anggi Noen, Sendiri Diana Sendiri (Following Diana, 2015) by Kamila Andini, and Siti (2014) by Eddie Cahyono.

Siti has won awards at Shanghai International Film Festival 2015 and Singapore International Film Festival 2014, While Following Diana was accepted in the competition category at Toronto International Film Festival, and Love Story Not was screened at the Wide Angle program at Busan International Film Festival early this October.

Siti portrays the hard struggle of a woman living in a coastal area whose husband becomes paralyzed following an accident at sea that made him lost his boat. The family faces mounting debts, forcing Siti to work two jobs as a crackers hawker at the beach and a hostess at a karaoke bar. Her latter choice of work, however, disappoints her husband who then refuses to talk to her. In comes Gatot, a karaoke customer who falls for Siti and asks her to marry him. Eddie Cahyono uses the ocean as the main metaphor of the problems the characters face: it provides livelihood to people, but it can easily snatch everything away from them.

In Following Diana the titular character is a housewife in a household with a similar dynamic as Siti’s. The film revolves around her domestic life, focusing on the hierarchy between men and women. Diana’s husband is polygamous and although she has no choice but to accept, she later chooses not to rely on her husband anymore. So she finds a job to provide for herself and her children. Love Story Not highlights the life of prostitutes in Yogyakarta, where sex workers Ning and Martha are dating the same man who relies on both women financially.

Empowered Women

Women are often considered creatures who have to be ”pitied on”, who require a lot of affection. This perception has contributed to the social construct supported by religious values that places women “below” men. Moreover, women are seen as less important, both at the workplace and within their family. The reality is women have a wealth of personal strength to overcome limitations, which is what the three films convey.