05 February 2017

Ismail Basbeth, Menuju Rembulan bersama Mobil Bekas


Dipublikasikan di Ruang Gramedia pada tanggal 25 Januari 2017 dan dipublikasikan ulang di Kompas pada tanggal 31 Januari 2017.
 

Pembuat film memiliki cara pandang yang berbeda soal film yang sukses. Ada yang mementingkan cerita; ada yang lebih fokus ke gambar; ada pula yang mengincar jumlah penonton. Masing-masing seakan mempunyai jalur dan penontonnya sendiri. Walaupun, sebetulnya ada juga yang pernah mencoba ketiganya. Contohnya adalah Ismail Basbeth.
Sehari-harinya, Basbeth adalah pembuat film, dengan rumah produksi Hide Project Films. Ia juga direktur artistik dari laboratorium kreatif Bosan Berisik LAB, yang menggali dan bereksperimen dalam bidang seni dan sastra.
Saya menjumpai Ismail Basbeth saat pembukaan Jogja Asian-Netpac Film Festival (JAFF) 2016 di Societet Taman Budaya Yogyakarta. Di perhelatan JAFF ke-11 tersebut Basbeth berperan sebagai direktur program.
Seperti pengelola festival lain, Basbeth terlihat sibuk menyambut tamu. Celana pendek, kaos, dan topi bundar, melekat pada dirinya. Beberapa pengunjung ia sapa dengan logat medoknya. Tak jarang, Basbeth langsung mengobrol asyik, membicarakan entah apa.
Saya baru benar-benar dapat mengobrol bersama Basbeth saat workshop film terbarunya: Mobil Bekas dan Kisah-kisah dalam Putaran (selanjutnya disingkat sebagai Mobil Bekas). Mobil Bekas adalah film panjang ke-4 dan merupakan film ke-14 Ismail Basbeth.

Sekolah lewat Proses
Seperti banyak pembuat film, Basbeth memulai kariernya lewat film-film pendek.
Film-film pendek Basbeth kerap mempunyai visi artistik yang khas. Dalam Shelter (2011), Basbeth menampilkan adegan long-take seorang laki-laki mencumbu perempuan yang tak memberikan respons apapun. Dalam Ritual (2011), Basbeth memperlakukan kamera layaknya CCTV dan penonton menjadi pengintai sebuah kamar hotel.
Boleh dibilang, Basbeth sadar betul bagaimana gambar dalam filmnya hadir di hadapan penonton. Atau bahkan lebih jauh dari itu, eksplorasi Basbeth mungkin memang lebih menyasar kepada style dibanding storytelling. Basbeth tidak membantah itu.
“Fokus di style memang benar juga. Tapi begini, storytelling itu kan sesuatu yang kalau kamu pengen ngomong terus kamu omongin. Tapi aku kan gak perlu ngomong kalau gambarku udah ngomong,” jelas Basbeth. “Di film pendek, aku akan berusaha membuat orang enggak akan pernah lupa dengan filmku. Jika filmku berdurasi lima belas menit, aku akan buat lima belas menit itu lima belas menit terbaik yang pernah mereka tonton. Salah satu caranya, mainan visual.”

30 December 2016

ZIARAH: Cinta di Antara Transaksi dan Iman



Ulasan oleh: Yulaika Ramadhani
dipublikasikan pertama kali di majalah.pabrikultur.com pada 20 Desember 2016

Ziarah 
Sutradara & Skenario: BW Purba Negara
Pemain: Ponco Sutiyem, Rukman Rosadi, Ledjar Subroto, Vera Prifatamasari
Produksi: Purbanegara Film, 2016



Konon, yang pasti hanyalah masa lalu, dan kepastian terjauh di masa depan adalah kematian. 
Masa lalu dan kematian, dua hal yang dipakai BW Purbanegara sebagai bahan baku film terbarunya, Ziarah. Sekuens adegan pembuka film ini langsung membawa penonton ke pemakaman. Sekelompok orang menatap liang kubur yang merupakan fokus kamera itu sendiri. Layar sedikit demi sedikit gelap, tertutup tanah yang para lakon gunakan untuk menguburkan seseorang—atau sesuatu. Adegan tersebut seolah-olah memberi penanda awal, bahwa penonton akan banyak dilibatkan dalam cerita. 

“Suara kuwi raiso ilang. Aku ki percoyo, Simbah kakung disare’ke neng kono.” (Suara itu selalu terngiang-ngiang. Aku percaya, Simbah kakung dimakamkan di sana).

Berangkat dari pertanda, informasi baru dari mantan pejuang, serta sehimpun rasa percaya, Mbah Sri memulai perjalanan  mencari makam Mba Pawiro Sahid—suaminya yang hilang ketika perang Agresi Militer Belanda 1949. Motifnya sederhana, ia ingin dikuburkan bersanding dengan makam suaminya jika kelak meninggal. 

Mbah Sri percaya, tanah akan menyatukan mereka kembali di kehidupan selanjutnya. Proses perkawinan Prapto, cucu Mbah Sri, dengan calonnya tertunda dengan kepergian Mbah Sri. Prapto membutuhkan Mbah Sri, yang merupakan satu-satunya kerabat yang masih hidup untuk mewakilinya. Adalah juga alasan lain yang membuat Prapto mencari Mbah Sri, di samping kewajibannya sebagai cucu.

Dalam Ziarah, masa lalu adalah hal cair yang berfungsi sebagai medium penggerak pencarian Mbah Sri akan makam suaminya semasa Revolusi dulu. Mbah Sri dan Prapto, dua orang yang sama-sama menjalani pencarian dan perjalanan, bergerak berdasarkan cerita-cerita masa lalu yang mereka dengarkan. Sedangkan, kematian adalah agen ganda. Di realitas cerita, ia berfungsi sebagai terminal sekaligus tujuan protagonis menjalani perjalanannya. Sedangkan di hadapan penonton, kematian berguna untuk mendefinisikan kembali arti rumah, kesetiaan, dan jenis cinta yang lain. Melalui Ziarah, arti rumah dan kesetiaan bisa didedah kebaruannya dengan memperbandingkan esensi perjalanan Prapto dengan Mbah Sri, si ‘pemilik kematian’. 

Mulanya, BW menghadirkan definisi konvensional perihal rumah melalui perbincangan Prapto dan calonnya. Di bagian ini, rumah dijelaskan sebagai sebuah bangunan yang terdiri dari ruang tamu, dapur, dan kamar utama—satu hal yang Prapto janjikan setelah pernikahan. BW kemudian mengajak para penontonnya melihat definisi rumah yang lain melalui sudut pandang Mbah Sri. 

“Kabeh sing wis kepisah, bakal iso nyawiji meneh ning lemah. Manungsa iku seko lemah, mulo yo mesti bali meneh ning lemah,” (Semua yang sudah terpisah, akan dapat menyatu lagi di tanah. Manusia berasal dari tanah dan harus kembali ke tanah juga).

Di titik ini, rumah bukan hanya sebagai tempat kembali, tetapi juga dimaknai sebagai tempat bertemu dan menjalani kehidupan baru setelah kematian bersama pasangan. Definisi ini bebas dari unsur transaksi apapun. Keberadaan rumah bukan sebagai syarat penikahan, bukan pula alasan politis lain semacam, kenapa pasangan harus mempertahankan satu sama lain. Rumah, bagi Mbah Sri, adalah semangat merelakan kehidupan, demi jenis cinta yang ia imani.

Disadari tidak, cinta adalah hal yang dibangun dengan hal-hal transaksional dan tidak terlepas dari manifestasi libido. Seperti yang disampaikan Erich Fromm, penulis The Art of Loving (Seni Mencinta), dua orang bisa jatuh cinta ketika mereka merasa menemukan objek terbaik yang tersedia di pasar—dengan mempertimbangkan batas nilai tukar masing-masing. 

Karena bersifat transaksional, tentu diikuti dengan adanya proses tawar menawar: Saya berusaha menawar; objeknya harus pantas diraih dari sudut pandang nilai sosialnya, dan pada saat yang bersamaan harus menginginkan diri saya. Konsep transaksional ini BW sengaja letakkan pada hubungan Prapto dan calonnya. Sebuah siasat tepat guna sebagai alat untuk mengkontraskan jenis cinta yang lain. Adalah cinta yang Mbah Sri imani di usianya ke-95.

Perjalanan yang Mbah Sri tempuh di sepanjang film seakan ingin memberitahu penontonnya, jika waktunya nanti kita semua akan selesai dengan hal-hal politis terkait perasaan, dan kita cukup menikmati kehidupan dengan sederhana, pun cinta. Ia tak harus terus-terusan heroik dan dramatis. Mbah Sri cukupkan dengan menjalaninya dengan sehimpun rasa percaya. Rasa percaya yang ia tanam selama bertahun-tahun, sepeninggalan suaminya. Rasa percaya yang ia bawa sepanjang perjalanan mencari makam. Rasa percaya yang ia cukupkan dalam cita-cita kematian, dan hingga waktunya nanti ia akan tidur berdampingan di sebelah kuburan Mbah Pawiro Sahid, suaminya.

 “Ora saklawase pati kuwi gawe pisah, iso ugo kosok balene,” (Tidak selamanya kematian itu penyebab perpisahan, bisa juga sebaliknya).

Yang menarik dari hal itu adalah eksekusinya. Mbah Pawiro dan hal-hal yang terjadi di masa lalu tidak pernah tampak secara visual. Semuanya dihadirkan dalam film melalui cerita-cerita para tokohnya. Terlebih lagi, BW tidak sedetik pun menghadirkan Mbah Sri dan Mbah Pawiro—dua orang yang penonton percaya punya relasi intim—dalam satu frame. Penonton cukup  melihat cinta dari momen-momen kuat yang dijalani para lakonnya. 

Momen-momen ketika tubuh renta Mbah Sri menaiki bus, gurat sendu di wajah keriput Mbah Sri ketika melihat keluar jendela bus, kontemplasi Mbah Sri menatap air dan kuburan yang tenggelam, serta momen-momen akhir ketika Mbah Sri rela membersihkan dan menabur bunga di kuburan di sebelah nisan Mbah Pawiro Sahid. Semuanya adalah momen yang hadir di masa sekarang—masa di saat penonton menonton, masa lalu cukup dijangkau melalui asumsi dan cerita-ceritanya saja. 


Sangkan paran ning dumadi

Sadaya saking Gusti

Sadaya gesanging bumi

Lebur dening pangastuti

Kita namung jarwo manungsa

Mugi pinaringan cahya

Tansah sumunaring suka

Jatining urip, jatining pati, jatining gesang



Mantra tersebut muncul di awal dan di akhir film. Dua-duanya dinyanyikan ketika adegan di pemakaman muncul. Kehidupan dan kematian adalah dari Tuhan (Gusti), kita hanya manusia. Di titik ini, BW seakan-akan ingin memberitahukan dari awal—dan dipastikan kembali di akhir, bahwa manusia-manusia di filmnya adalah ‘hamba’. Seorang hamba yang mengimani bahwa terdapat tiga hal pasti dalam kehidupan: jodoh, rezeki, dan kematian. Tiga hal yang secara berulang disinggung BW dalam Ziarah. Adalah jodoh yang dihadirkan dalam proses pernikahan Prapto-calonnya dan hadir berkali-kali dalam konsep kesetiaan Mbah Sri-Mbah Pawiro Sahid. Konsep rezeki banyak disinggung dalam pembicaraan Prapto dan calonnya. Sedang kematian, bertubi-tubi diurai maknanya di sekujur film.

BW memilih mengakhiri Ziarah dengan adegan Mbah Tresno—salah satu informan Mbah Sri—menggali dua bakal kuburan. Mbah Sri duduk di depannya, melihat penggalian tersebut. Sebuah adegan yang seharusnya bisa dikembangkan sedikit lebih utuh. Barangkali BW bermaksud memberi akhir terbuka untuk penontonnya. Jika memang demikian, konsekuensinya adalah penonton akan memberi kesimpulan sebatas visual mereka masing-masing. 

Bukan tidak mungkin, adegan akhir tersebut ditafsirkan bahwa dua bakal kuburan tersebut dibuat untuk Mbah Sri dan Mbah Tresno sendiri—yang menyimpang dari tujuan awal Mbah Sri. Satu dari sekian tafsir yang nyatanya mampu mencederai ‘konsep-konsep sakral’ yang pembuat film usahakan di sepanjang durasi film. Atau barangkali memang tidak ada lagi yang sakral ketika membicarakan cinta manusia dengan manusia? 

Terlepas dari semuanya, film ini memberi ruang tafsir yang luas bagi penonton, hingga, akhir cerita pun diserahkan di tangan penonton. Yang saya pelajari dari Ziarah adalah pembahasan cinta tidak akan pernah utuh jika hanya melibatkan perkara kesenangan, dan kematian terlalu sia-sia jika hanya dimaknai sebagai sebuah kesedihan. Di titik itu, energi positif justru lahir ketika kita berani menantang hal-hal yang paling kita takuti.

03 December 2016

JAFF 2016 "ISLANDSCAPE": Merayakan Keluasan Bentang Pulau Asia-Pasifik melalui Lensa Sinematik




Tahun ini bukan lagi “Desember ke Jogja”, melainkan “Desember di Jogja”. Kelar pindahan kemarin, saya resmi menetap di Jogja—balik kampung halaman, akhirnya. Saya juga resmi menjadi pengangguran yang (sok) sibuk mulai November kemarin, termasuk sibuk menjadi mandor urusan dekorasi pelaminan, berburu souvenir, milih make-up nikahan, dan agenda-agenda asyik lainnya. Sampai akhirnya satu-satu terlewati, mulai dari akad, resepsi, ngunduh mantu, dan, ya honeymoon.

“Wah, honeymoon-nya di JAFF ya, cah film banget,”
“Wah JAFF kali ini sudah bawa laki, eh suami ya,”

Celetukan konco-konco tersebut memang benar adanya. JAFF tahun ini jatuh tepat seminggu setelah acara kami, yaitu pada tanggal 28 November 2016 sampai dengan 3 Desember 2016. Karena hal yang sama juga, saya serasa ikut kompetisi film di JAFF dan menang, bahkan sebelum film saya diputar. Bagaimana tidak, sejak hari pertama JAFF, satu jam sebelum acara opening dan pemutaran film “Salawaku”, saya dihujani banyak kata 'selamat' (selamat menempuh hidup baru, maksudnya), jabat tangan, peluk-cium pipi kiri-kanan. Dah mirip sineas pemenang award aja, batin saya.

JAFF sendiri tidak kalah heboh dengan acara kami. Salawaku, film pembuka Jogja-NETPAC Film Festival 2016 ini berhasil menghadirkan konsep laut yang mendalam untuk seluruh penontonnya. Hal ini menarik, bukan saja karena filmnya yang digarap dengan asyik oleh Pritagita Arianegara sang sutradara, namun juga karena berhasil menggemakan tema dengan JAFF tahun ini perihal laut: “ISLANDSCAPE”.

12 November 2016

45 Years: Studi tentang Pernikahan dan Hantu-hantunya




45 Years mencoba membuktikan bahwa periode dan frekuensi bukan standar presisi mengukur berhasil-tidaknya sebuah hubungan romantis. Hubungan romantis mensyaratkan banyak hal—tidak akan terbangun melulu oleh sensasi-sensasi menyenangkan saja. Karena pada hakikatnya, mencintai seseorang, seperti yang dikatakan Erich Fromm, bukan sekedar perasaan kuat. Mencintai adalah sebuah paket utuh dari keputusan, penilaian, dan janji. Keputusan untuk meleburkan diri sepenuhnya dan secara intensif hanya dengan satu pribadi, janji dan komitmen penuh atas keputusan tersebut, serta penilaian-penilaian atas keduanya. Penilaian itu bisa berupa mempertanyakan ulang hal-hal yang telah-sedang-akan dilalui bersama.


Di titik ini, mencintai menjadi kegiatan yang sangat eksklusif. Yang mana para subjeknya mendambakan peleburan total. Yang biasanya diresmikan dalam simbol-simbol kesepakatan antardua individu. Bisa berupa status relasi di media sosial atau juga status pernikahan di masyarakat sosial.

45 Years mencoba mempertanyakan perkara eksklusivitas tersebut dalam kisah sepekan Kate-Geoff Mercer. 

Kisah ini dimulai dari tujuh hari menjelang perayaan pernikahan mereka yang ke-45.

Bermula dari sebuah surat yang datang di tengah proses merekan mempersiapkan tempat acara, baju pesta, dan lagu-lagu dansa pertama.